Sejak dulu Indonesia menerapkan green hospital

Rumah sakit berkonsep ramah lingkungan, hmm…

Green Hospital.

Why green building?

Photo by ics.ele.tue.nl

Secara harfiah, green hospital merupakan salah satu hasil implementasi konsep green building –atau dikenal juga sebagai sustainable building, dimana memperhatikan aspek-aspek lingkungan, mulai dari perancangan, pembangunan, pengoperasian, hingga pemeliharaan. Tujuan green building adalah optimalisasi sumber daya dalam jumlah yang sedikit, sehingga mengurangi dampak bottom line ekonomi, lingkungan, dan penguhinya.

Tahukah kamu?

Penerapan konsep green building pada rumah sakit bisa mengurangi biaya operasional, meningkatkan standar kesehatan, dan adanya konservasi sumber daya alam. Hasil penelitian United State Green Building Council (USGBC) menunjukkan, bahwa sebelum diterapkan green building, bangunan di Amerika mengonsumsi 71% listrik negara. Energy Information Administration (EIA) menginformasikan 65% energi terbuang percuma dan 39% gas emisi rumah kaca.

Green hospital

Kalau dibilang rumah sakit di Indonesia tidak ramah lingkungan, sebenarnya tidak juga. Justru, rata-rata rumah sakit di Indonesia sudah lama mengimplementasikan konsep green building. Hanya saja, namanya belum sekeren sekarang yaitu green hospital. Ditambah lagi, butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk memahami, “kayak gimana sieh green hospital yang sempurna top markotop jhoss gandhoos nganti mledhoss itu?”

Wah, kalau pertanyaannya kayak gitu ya, saya belum mampu jawabnya. Bukan kelasnya saya ngejawab pertanyaan semacam ini, tapi saya bisa menceritakan tentang sekelumit rumah sakit idaman.

Bagi saya, rumah sakit dengan konsep Green+ atau green hospital tidak hanya sekedar rumah sakit yang sukses menggunakan barang-barang recycle atau gedung pencakar langit dengan hamparan rumput dan selang-seling bunga di atap.

Coba deh bayangkan…

Sebuah rumah sakit dibangun menggunakan susunan batu bata putih gading, beratap kubah berwarna cokelat susu, dan disangga pilar-pilar berlilitkan anggrek hijau segar. Tidak jauh dari pintu masuk, terdapat sederet rak sepatu terbuat dari mahogany. Dan mulailah saya menapaki lantai marmer yang lembut, kesat, dan dingin.

Seketika pintu dibuka, semerbak harum bunga gardenia menyeruak. Bukan karena pengharum ruangan, namun taman bungalah yang menebar wewangian. Sinar matahari dan semilir angin menembus dari celah-celah mungil di dinding. Terdengar piece karya-karya Beethoven, Mozart, dan Vivaldi mengalun dan mendenting dari jemari yang berdansa di atas balok-balok piano putih dari dalam gazebo.

Saya melihat sekeliling.

Saya mendekati papan besar bertuliskan “Pusat Informasi” dilengkapi denah, tepat di sebelah meja informasi. Jari saya menunjuk satu ruang.

Sepanjang jalan, saya melihat konsep tata ruang yang unik. Jika biasanya ruang dengan yang lainnya dipisahkan oleh sekat-sekat kotak, kali ini saya menjumpai setiap ruangan di-design melingkar dan tanpa atap, sehingga aktifitas di dalam bisa kelihatan dari atas.

Coba diintip toiletnya… Siapa tahu atapnya bolong juga.

KRIIEEETTTTTTTT… Idih! Berdecit.

Yaps! Itulah nuansa rumah sakit. Semakin mencekam aura indigonya, makin bikin penasaran.

Waktu pintu dibuka, kondisi toilet masih gelap gulita. Maklum, toiletnya beratap. Gak kebayang kalau toilet ikut-ikutan gak dikasih atap. Begitu saya masuk ke dalam, lampu menyala secara otomatis. Ternyata ada sensornya nieh saklar. Begitu pula dengan keran wastafel. Berhubung saya penakut, mendingan buru-buru ngacir aja deh… Gak mau ngambil resiko tiba-tiba something scary inside, seperti lampu kedip-kedip, keran nyala sendiri, pintu terkunci, atau muncul sekelebat bayangan tidak teridentifikasi.

Habis dari toilet, shelter berikutnya tetap kantin.

Ngomong-ngomong nieh ya… Betewe… //–”betewe”… Bahasa mana tuh? Haha. Salah kaprah. Maksudnya “by the way”.

Merhatiin gak sieh? Dari tadi saya story telling suasana rumah sakit, gak ada satu manusia selain saya. Yang lain pada kemana? Ini rumah sakit gak laku kali ya… Atau rakyat Indonesia sehat semua? Alhamdulillah…

Nah! Saya pun melanjutkan perjalanan ke kantin. Melewati kamar-kamar pasien yang sunyi-senyap. Derap kaki saya menggema. Memantul di antara dinding. Angin yang berhembus membuat bulu kuduk bergidik. Dan akhirnya, sampai juga saya di depan pintu kantin. Pintu pun saya buka perlahan. Tampaklah…

Garden dining.

Setelah memesan makanan, saya pun siap menyantapnya, sambil duduk di balok batang pohon ebony, di tengah hamparan rumput. Makanan dihidangkan menggunakan mangkuk batok kelapa mungil, disertai sendok kayu.

Hmm… Bersambung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *